Serial Mendidik Dengan Cinta #1 “Mari Belajar dari Nabi”

Pendidikan dan pengajaran yang ideal; menggabungkan adanya targhib dan tarhib.

Bersifat pertengahan; tidak otoriter dan tidak pula permisif.

Ada yang mengira kalau Islam itu mengajarkan pengasuhan dengan cara yang keras dan kasar. Hanya karena baru sepotong-potong mendengar hadits bahwa Nabi mengajarkan memukul anak yang tidak mau salat ataupun menggantungkan cambuk di rumah sebagai tanda peringatan bagi anak.

Namun, mereka juga perlu tahu. Di balik semua itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendasari interaksi dengan anak-anak dengan penuh cinta.

☘️Mari kita lihat, bagaimana Zaid bin Haaritsah yang masih bocah dan berstatus sebagai budak, kala itu hendak ditebus dijemput pulang oleh ayah dan pamannya, dari sisi rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi persilakan Zaid untuk memilih; apakah ingin tetap bersama Nabi atau pulang bersama ayah dan pamannya.

Lantas, apa jawaban Zaid kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

ما أريدهما، وما أنا بالذي أختار عليك أحداً، أنت مكان الأب والعم

“Aku tidak ingin ikut mereka berdua. Aku tidak bisa memilih orang lain selain engkau. Dirimu sudah seperti ayah dan pamanku.” (Riwayat Ibnu Sa’ad dalam Ath Thobaqot Al Kubra, 3/28)

Ayahnya dan pamannya sampai-sampai tidak menyangka Zaid tidak memilih ayah dan pamannya. Ia justru memilih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan pilihan merdeka dan pulang kepada keluarganya. Namun, dengan mantap Zaid memilih, karena begitu besar rasa cintanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

☘️Coba tengok bagaimana anak-anak yang berhamburan mengerubungi Nabi yang baru pulang dari perang Tabuk. Sahabat Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu bercerita,

لمّا قدم النبيّ المدينة من غزوة تبوك، تلقّاه الناس، فلقيته مع الصبيان على ثنيّة الوداع

“Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba dari perang tabuk, maka kemudian orang-orang pun menyambutnya. Aku menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah bersama anak-anak di daerah tsaniyatil wada’.” (HR. Abu Dawud no 2779, Syaikh Al Albani menilainya saheh)

Mengapa anak-anak bisa begitu cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam…? Ini karena beliau yang menghiasi interaksi dan pengajaran yang penuh cinta kepada anak-anak.

Insyaallah, pada artikel berseri ini, kita akan belajar bersama bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menumbuhkan benih cinta dalam hati anak-anak.

Semoga Allah mudahkan dan menjadikannya bermanfaat.

Baarakallaahu fiikum

••• ════ °° ════ •••

Ditulis oleh :

Kak Erlan,

Rejodani Sleman, 27 Shafar 1442 H

About Author

Kak Erlan

Alumni Ma’had Al Ilmi Yogyakarta. Da’i anak dan Penulis buku anak muslim serial ada dan tauhid. Pengampu grup parenting Taklim Anak As Sunnah.

View all posts by Kak Erlan »

Leave a Reply